Friday, February 17, 2017

Cerpen: Misteri Sebuah Seruling

Tags

Oleh Lasma Hasianna Situmeang


"Kak Tika... bangun! Kak Tika tidak mendengar sesuatu?" saya membangunkan kakakku, Tika.

"Amel... jangan ganggu Kakak, dong. Kakak masih ngantuk, ini masih malam, masih jam dua belas".
"Iya... tapi coba dengar! Malam-malam begini, kok ada bunyi tangisan?" saya mencoba meyakinkan Kak Tika, dan kelihatannya ia sedang memasang kupingnya.
"Wah, benar, Mel! Kira-kira siapa yang nangis ya? Dan tampaknya ada bunyi seruling juga?" tanya Kak Tika lagi.
Aku mengangguk dan menjadi takut. Lingkungan di sekitar rumah Kakek, di Tarutung, tepatnya di Tapanuli Utara.
"Mel... mungkin ada anggota salah satu keluarga di sekitar rumah kakek yang meninggal dunia. Kaprikornus kita harus membangunkan kakek," Kak Tika bicara penuh antusias.
"Aduh... sudah deh, lebih baik kita tidur aja lagi. Amel takut kak..." jawabku dengan sedikit merengek. Kak Tika mengerutkan dahi, tampaknya sedang berpikir keras.
"Ya sudah! Kalau kau mau tidur, lanjutkan saja tidurmu. Kakak tak habis pikir, ada bunyi tangisan bersamaan dengan bunyi seruling. Pasti ada sesuatu dibalik semua ini, " Kak Tika membuka pintu kamar dan berjalan perlahan-lahan.Karena takut sendirian dikamar, saya mengikutinya. Kami mengendap-endap dan membuka pintu ruang tamu.
"Sepertinya bunyi tangisan tadi berasal dari tetangga sebelah. Tetapi bunyi seruling itu berasal dari daerah yang lain. Aku semakin penasaran," Kak Tika mengambil sebuah senter dikamar, dan kamipun mulai berjalan keluar rumah. Ternyata memang benar, bunyi itu berasal dari tetangga sebelah. Kak Tika memasuki perkarangan tetangga sebelah yang tidak berpagar. Suara itu begitu pilu. Setelah mengintip dari sela-sela pintu yang terbuat dari kayu, kami dapat melihat kalau yang menangis yakni Bu Anto. Dia menangis di ruang tamu, tapi tidak ada orang yang meninggal disekitarnya. Ia menangis sambil memegang bingkai. Kami berdua terheran-heran. Ada apa dengan Bu Anto?
"Mel, bunyi tangis itu ternyata bukan hanya dari rumah Bu Anto. Ada juga dibeberapa rumah lain. Tetapi bunyi seruling itu berasal cuma berasal dari satu sumber. Kalau begitu, lebih baik kita mencari sumber bunyi seruling itu."
Kami mulai berjalan melewati pohon-pohon besar. Desa ini memang masih banyak rawa-rawa, pohon-pohon bambu, dan pohon alpukat. Hanya dengan sebuah senter Kak Tika melangkahkan kakinya dengan mantap. Aku memengan tangannya dengan erat.
"Mel, tampaknya berasal dari rumah gubuk itu!" Kak Tika menarik tanganku kesebuah rumah panggung. Perlahan ia menaiki tangga itu dan mencoba mellihat dari sela-sela pintu kayu. Ternyata yang meniup seruling seorang anak lelaki.
Tok tok tok...
Kak Tika benar-benar nekat mengetuk pintu rumah itu. "Siapa itu?" tanya anak lelaki itu. Dia berjalan dan membukakan pintu. "Siapa kalian?" tanyanya dengan tatapan curiga.
"Kami cucu kakek Santos. Kami sedang liburan disini. Apa kami boleh masuk?" tanya Kak Tika ramah. Dia mengangguk. Anehnya semenjak beliau selesai memainkan serulingnya, bunyi tangis itu tidak terdengar lagi.
"Namaku Tika, saya kelas IV SD. Ini adikku, Amel, kelas II SD. Boleh kami tahu namamu?" tanya Kak Tika dengan hati-hati.
"Hm... namaku Joni, saya kini kelas IV SD. Sedang apa kalian malam-malam begini?" Joni mulai kelihatan ramah.
"Kami tak dapat tidur mendengar bunyi tangisan, dan bunyi seruling yang kedengarannya begitu menyanyat. Ada apa bergotong-royong yang terjadi?" tanya Kak Tika.
Si Joni menundukkan kepala. Lalu mulai bercerita.
"Aku punya kakek yang sangat baik. Ia yang menciptakan seruling ini. Seruling ini tidak sembarangan dibuat. Setiap ada satu anggota keluarga di desa ini yang meniggal, Kakek menciptakan satu lubang pada bambu yang akan dijadikan seruling. Tiga tahun kemudian ada dua anggota keluarga didesa ini yang meniggal dunia dalam waktu yang bersamaan. Kakekpun memberi dua lubang pada bambu ini..." Joni menarik napas. Lalu melanjutkan.
"Jadi... pembuatan ini cukup lama, alasannya jarang anggota keluarga yang meniggal. Kata Kakek, bambu ini akan dibentuk delapan lubang. Tujuh lubang sejajar dan satu lagi dibelakangnya. Tapi beberapa bulan yang kemudian kakek meninggal. Sebelum meniggal kakek berpesan kalau ia meniggal saya harus menciptakan lubang yang terakhir. Ia menyuruhku meniup seruling ini pada malam jumat. Jadi, bila seruling ini saya tiup, orang-orang yang telah kehilangan anggota keluarganya yang telah diberi tanda dengan lubang pada seruling ini, akan menangis pilu. Karena semua teringat pada orang-orang yang dicintainya termasuk aku. Sambil meniup seruling air mataku mengalir deras, teringat pada kakekku tercinta," Joni menuntaskan ceritanya yang panjang.
"Wah... pantas Bu Anto menangis sambil memegangi bingkai. Mungkin itu foto anaknya yang meninggal." Tebakku.
Kami berdua kemudian berpamitan pulang.
"Kami bahagia punya sobat ibarat kamu, Jon. Kami akan menceritakan kisah menarik ini buat sobat kami di kota."
"Baiklah. Sampai jumpa, Tika, Amel..." Joni mengucapkan salam perpisahan. Kamipun bergegas pulang, khawatir kalau kakek menyidik kamar kami.***

Sumber http://campusnancy.blogspot.com


EmoticonEmoticon