Oleh Dr. Lina Suwiyar
Kampungku kedatangan penghuni baru. Seorang pria bau tanah berpenampilan gila dan bertingkah laris gila pula. Laki-laki itu menyebut dirinya Bung, bukan Pak, Mas atau Bang. Anak-anak sering mengganggu, mereka memberi julukan Bung Jabrik alasannya yaitu rambutnya panjang dan tidak teratur. Agaknya Bung Jabrik kurang waras, sering berbicara dan tertawa sendiri. Bung Jabrik tinggal di gubuk bau tanah di tepi sungai.
Pagi itu para guru mengadakan rapat, murid-murid diperbolehkan pulang lebih cepat. Masih dengan seragam merah putih, aku, Yuni, Esi dan A Seng berkumpul di warung lontong Yu Marni. Bonang belum datang.
“Belakangan ini kampung kita banyak terjadi pencurian,” A Seng membuka cerita. “Pak Ujang, Pak Beni saudagar sapi, Paman Munir telah menjadi korban. Para pencuri berhasil dengan gemilang. Mereka profesional.”
“Mereka?” saya tertarik.
A Seng angkat bahu, “Aku hanya menduga. Sebab kerjanya sangat rapi dan hampir tak meninggalkan jejak.”
“Puh! Kayak detektif Ana lagakmu,” comooh Esi.
Kami tertawa. “Lihat, itu bonang!”
Bonang mengempit bungkusan. Sakunya penuh buah mata kucing, ia membagi masing-masing segenggam.
“Apa itu?”
“Nasi Urap dan sepotong ikan asin?”
“Untuk siapa, Nang?” tanyaku lagi.
“Rahasia,” Bonang nyengir.
“A Seng mau mengalahkan Kapten Jono menangkap pencuri yang menjarah desa kita,” lapor Yuni.
“Boleh juga,” kata Bonang serius,” siapa tahu kita sanggup membantu.”
Kami mengatur bangku supaya sanggup duduk satu meja. Yu Marni menyediakan pisang goreng dan teh.
A Seng menyilakan, “Aku yang bayar. Om Liem memberi uang lebih tadi.”
“Mari kita kumpulkan data pencurian dari ketiga korban. Ada yang mencurigakan? Tari, coba dicatat!”
“Kedai Pak Ujang. Beliau tinggal sendiri. Pencurian terjadi ketika ia pergi kenduri. Jendela dan pintu tidak ada kerusakan. Pekerjaan yang sangat rapi. Rumah Pak Beni, pencuri masuk tengah malam. Malam itu Pak Beni gres mendapatkan uang hasil penjualan sawahnya. Yang hilang uang, perhiasan, dan benda kecil berharga lainnya. Sedangkan TV, radio, VCD tidak diambil.”
“Terakhir Paman Munir,” lanjut Bonang,” terjadi dua Minggu kemudian. Beliau gres meminjam uang dari KUD, malamnya uang dan arloji emas raib dengan cara yang sama.”
“Kukira pelakunya orang yang sama,” cetus Yuni.
“Mungkin juga tidak,” hardik A Seng. “Bisa orang dalam, tetangga, atau orang lain yang menjiplak ulah pencuri pertama.”
“Pusiiiiing...” keluh Esi.
“Mari kita simpulkan dari ketiga kasus itu,” Bonang berpikir, “Terjadi malam hari, pencuri masuk dengan mudah, uang dan benda kecil berharga saja yang diambil...”
“Si pencuri tahu persis bahwa tuan rumah gres mendapatkan uang banyak,” potongku bersemangat, “kemungkinan pelakunya satu orang, jikalau tidak mengapa mereka tidak mengambil TV, radio, VCD dan lain-lain. Setelah itu saya merasa si pencuri orang desa ini juga, yang tahu kapan harus beraksi dan siapa korbannya.”
“Bagus, Tari,” puji Bonang. “Kurasa hari ini sudah cukup bagi kita untuk berpikir. Ayo, ikut aku!”
Kami jalan beriringan, Bonang terdepan. “Nang, ngapain ke sungai?” Bonang terus berjalan menuju ke sebuah gubuk. Bung Jabrik sedang merokok dengan santai. Bajunya kumal dan rambutnya acak-acakan.
“Nang, takut!” Esi menarik tangan Bonang.
“Ssst, tidak apa-apa. Dulu Bung Jabrik seorang p0juang, tetapi dikhianati temannya sendiri sehingga ia ditawan dan disiksa oleh musuh,” terperinci Bonang.
“Bung, ini saya bonang. Aku bawakan nasi urap kesukaan Bung!”
Bung Jabrik mendongak, “Aku sibuk. Pergi! Jangan dekati rumahku!”
“Jangan begitu, Bung. Kita sama-sama p0juang, bukan?” bujuk Bonang.
“Hmmm,” Bung Jabrik melunak, “lihat geretan ini, derma Komandan atas jasa-jasaku.”
“Bagus,” puji Bonang. Masih baru, sambungnya dalam hati. “Siapa nama Komandan Bung itu?”
“Hus!” Bung Jabrik marah, “tidak boleh bocorkan rahasia. Ditembak kau nanti, Dor! Dor! Kamu tidak setia ya sama Komandan. Pergi! Pergi!”
Kami berlari ketakutan. A Seng hingga pipis di celana.
Dua hari ini Bonang tidak banyak bicara. Kami mengira ia sudah kapok bertemu dengan Bung Jabrik. Ternyata kami salah.
“A Seng, belikan dua bungkus rokok!” perintah Bonang, A Seng patuh tanpa banyak tanya. “Dengar, kita berkesimpulan bahwa pelaku pencurian tinggal di desa ini, tapi ke mana harta hasil curiannya? Polisi telah menggeledah rumah-rumah yang dicurigai. Tiba-tiba saya ada ide, rumah siapa yang paling mustahil dicurigai?”
“Rumah Pak Lurah,” tebak Esi.
“Jawabannya yaitu gubuk Bung Jabrik. Ingat, Bung Jabrik tiba-tiba menerima rokok dan geretan bagus. Dari mana? Ia melarang kita masuk ke gubuknya. Siapa Komandan yang dimaksud oleh Bung Jabrik?”
Berlima kami menuju ke sungai. Tidak susah membujuk Bung Jabrik dengan dua bungkus rokok. “Dari Komandan, dia pesan saya harus memeriksa.”
Bung Jabrik tampak senang, “Mari kutunjukkan harta perampasan perang Komandan.” Ia membongkar tumpukan jerami di sudut gubuk dan mengambil sebuah kaleng bekas roti. Bonang merebut dan membukanya, “Uang, perhiasan, dan ini arloji emas Paman Munir.”
Bonang merangkul Bung Jabrik, “Bung, ternyata Komandan berkhianat. Ini harta negara, bung. Akan saya bawa dan kembalikan pada negara. Kejar dan tangkap Komandan pengkhianat itu!”
“Siap, Jenderal!” tegas Bung Jabrik sambil memberi hormat.
Di rumah Pak Lurah telah ramai. Bung Jabrik mengikat erat sang Komandan, yang dikenal sebagai Pak Carik. Bagaimana metode si pencuri?
Bonang tersenyum, “Pak Ujang masih ingat malam sebelum berangkat kenduri, Pak Carik tiba memberi rokok, geretan, dan sabun. Buat apa beli sabun pada malam hari? Untuk mencetak kunci. Aku sudah mengecek, tukang kunci, yang cocok dengan pintu rumah Pak Ujang, Pak Beni, dan Paman Munir.”
Pak Lurah dan hadirin bertepuk tangan. *****
EmoticonEmoticon