Thursday, October 4, 2018

Cerita Inspiratif Guru Yang Mengikuti Pembinaan Di Luar Negeri


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengirim 1.000 guru ke luar negeri untuk pembinaan selama tiga pekan. Kini mereka sudah pulang dengan membawa banyak pengalaman.

Salah satu penerima pelatihan, Ikhwansyah yang merupakan Guru TIK asal Sekolah Menengan Atas Negeri 1 Padang mengatakan, ia dan 20 rekannya menerima materi Vocational Teacher Training On Coding Skill di Amity University, Noida, India.

“Yang kami dapatkan banyak sekali, terutama di bidang IT yang sangat pesat di India. Kami melihat kenapa mereka bisa maju, yaitu prinsip-prinsip TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) ini memang sebuah kebutuhan yang sangat perlu ditanamkan semenjak usia dini kepada anak di sekolah, mulai dari SD, SMP, SMA,” ucapnya.

“Para siswa sudah diberikan bahan dasar coding atau bahasa pemrograman dimana dengan pemahaman coding nantinya siswa akan lebih gampang untuk menjadi spesialis di bidang IT terutama programmer,” tambah Ikhwansyah di sela kegiatan Menyambut Pulangnya 1.000 Guru di Hotel Millenium Jakarta, Senin (25/3/2019).

Dia menambahkan bahwa intinya mereka menciptakan sebuah codingsehingga nanti mereka bisa menciptakan aplikasi yang mereka butuhkan dan berharap Indonesia bisa menyerupai India sebagai penghasil software yang berguna.

“Karena perusahaan yang kami kunjungi (di India), mereka sudah bisa sebagai penghasil software dan itu dipakai di negara lain menyerupai Amerika. Sementara di Indonesia hanya sebagai user atau pengguna saja. Dan yang kedua dari segi bahasa, mereka sudah biasa mencar ilmu bahasa Inggris semenjak kecil atau Paud,” ucap Ikhwansyah.

Ia pun akan membagikan ilmu yang ia dapatkan di sekolah. “Nantinya yang saya akan ajarkan di sekolah yaitu menerapkan apa yang sudah saya dapatkan d India terkait IT ini. Minimal di sekolah kawasan yang saya ajarkan, nanti gres kita imbaskan ke teman-teman melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) baik kota maupun provinsi,” tuturnya.

Ikhwan berharap biar nantinya anak didiknya bisa disiapkan untuk bisa bersaing di dalam perkembangan teknologi. Sebab kalau sudah tertinggal,nantinya Indonesia hanya sebagai user atau pengguna saja.

Selain Ikhwansyah, ada juga Guru Ekonomi Sekolah Menengan Atas Negeri 2 Boyolali, Ismawanto yang menerima pembinaan di The University Of Queensland Australia. Menurutnya lingkungan dan kehidupan di sana tertata rapi. Kemudian tertib serta mempunyai kedisiplinan yang luar biasa.

Bahkan tidak ada yang memakai gadget dikala belajar, dan juga sangat menghormati orang lain baik di luar lingkungan sekolah maupun di dalam sekolah. Dari sisi pendidikan juga sudah tertata kebijakan-kebijakannya sehingga guru, kepala sekolah, TU, dan siswa mengusung pendidikan yang sangat tinggi.

“Setiap sekolah diberikan kebebasan untuk kebijakan masing-masing, tetapi janji untuk sukses itu sangat tinggi dalam sistem pendidikan. Sisi pembelajaran sangat aktif dan antusias baik guru dengan siswa. Ketika siswa ada dilema eksklusif ditangani di sana sebab ada yang namanya support teacher. Makara ada dua guru, satu sebagai pendamping untuk mengatasi siswa yang barangkali ada kesulitan,” ujar Ismawanto.

Dia menambahkan bahwa sarana dan prasarana Australia sangat lengkap. Semuanya sudah memakai peralatan canggih sehingga sangat mendukung sekali di kala revolusi industri 4.0. Sedangkan di luar mencar ilmu mengajar juga ada pengembangan talenta siswa sesuai minatnya masing-masing. Misalnya ada siswa yang suka seni, ternak, pertanian, dan lain-lain, maka akan diarahkan oleh guru pembimbingnya.

Berdasarkan hal ini, Ismawanto berharap agar mindset guru perlu ditingkatkan lagi bahkan diubah biar lebih baik untuk ke depannya. Ia pun akan berusaha mengimplementasikan ilmu yang sudah ia dapat.

“Hanya komitmennya saja yang harus dikembangkan dan dimantapkan lagi supaya semua guru itu berkomitmen terhadap proses pembelajaran. Apalagi kita semua kan sudah sanggup sertifikasi, itu kan bisa dijadikan motivasi peningkatan proses pembelajaran di kelas, supaya ke depannya belum dewasa sanggup lebih maju,” katanya.

Sementara Guru Kimia Sekolah Menengan Atas Negeri 6 Padang, Vivi Wirni menerima pembinaan di China dengan tema kegiatan STEM ICT, STEM (science, technology, engineering and mathematics) Information Communication Technology (ICT) yang berlokasi di Jiangsu Normal University.

Di China, Vivi mendapatkan bahan wacana bagaimana mengajar matematika, fisika, dan biologi yang tidak monoton. “Di sana menyerupai lomba saja, presentasi di hadapan profesor dengan menampilkan video. Ketika saya sedang mengajar di dalam kelas, di situ kita sembari dinilai. Dan alhamdulillah saya sanggup apresiasi The Best-nya,” kata Vivi.

Vivi berharap biar pola pengajaran guru diubah alias tidak hanya menandakan saja, tetapi sambil bertanya kepada siswa. Bahkan memperlihatkan soal dengan hitungan waktu cepat biar siswa tersebut antusias kalau mengerjakan soal dengan waktu. “Dan jangan pernah menyalahkan siswa yang tidak pernah baca dan lain-lain, tapi lihat dulu gurunya apakah ia sudah membaca? Makara ubahlah dulumindset-nya,” ucapnya.

“Seperti saya mengajarkan siswa dengan memutar video, buktinya mereka enjoysambil bernyanyi sebelum belajar. Penggabungan menyerupai itu ternyata sudah termasuk STEM ICT. Pelajarannya kimia tapi ada seninya jadi mereka gak bosan,” tambahnya.

Selain itu ketika siswa lagi mengerjakan soal, guru dihentikan pelit memberireward. Reward itu bisa memberi siswa pulpen.

Selain itu dihentikan membeda-bedakan siswa, tetapi semuanya harus diperlakukan sama. “Seperti bikin kelompok gabungan antara siswa yang arif dengan siswa yang kurang. Makara mencar ilmu untuk sportif dan tidak untuk egois lagi. Hal menyerupai itu sebagai referensi metode pembelajaran dengan sahabat sebaya,” pungkasnya.

Lebih lanjut, pengiriman 1.000 guru ke luar negeri bertunjuan menambah pengalaman tenaga didik dalam sistem pembelajaran di kala revolusi industri 4.0. Kemendikbud menyebar 1.000 guru untuk pembinaan di 12 negara, yakni ke China, India, Korea Selatan, Finlandia, Australia, Jerman, Jepang, Prancis, Singapura, Tiongkok, Hong Kong, dan Belanda.

Sumber : https://gtk.kemdikbud.go.id

Sumber http://supiadi74.blogspot.com


EmoticonEmoticon