Showing posts with label Hukum Mendel. Show all posts
Showing posts with label Hukum Mendel. Show all posts

Tuesday, February 28, 2017

Pengertian Suara Aturan Mendel

Hukum Mendel - Jika individu dengan sifat A melaksanakan perkawinan dengan individu lain dengan sifat B, sifat keturunannya sanggup mengikuti salah satu induknya atau merupakan hasil kombinasi dari sifat kedua induknya. Penurunan atau pewarisan sifat dari induk atau tetua kepada generasi (keturunan) berikutnya disebut inheritansi (inheritance). Peristiwa pewarisan sifat tersebut mengikuti pola-pola tertentu ialah pola-pola hereditas (Latin: heres atau jago waris). Hukum Mendel merupakan Hukum Hereditas yang menjelaskan prinsip-prinsip penurunan sifat pada organisme.

Teori Mendel didukung beberapa biologiwan menyerupai De Vries (Belanda), Correns (Jerman), dan Tschermak (Austria). Suatu hipotesis memprediksi bahwa dari generasi ke generasi, populasi dengan perkawinan bebas akan menghasilkan individu yang sama (seragam). Namun kenyataannya, dalam pengamatan setiap hari dan hasil percobaan pengembangbiakan binatang serta flora bertolak belakang dengan prediksi tersebut. Untuk membuatkan teorinya, Mendel memakai objek kajian berupa tumbuhan kacang kapri atau ercis (Gambar 1).

Alasan dan laba pemilihan kacang kapri untuk objek kajiannya antara lain: kapri mempunyai pasangan-pasangan yang kontras, gampang disilangkan, bisa menghasilkan keturunan banyak dan cepat alasannya daur hidupnya yang pendek, serta sanggup melaksanakan autogami atau penyerbukan sendiri alasannya mempunyai organ kelamin jantan (stamen atau benang sari) dan organ kelamin betina (putik atau pistillum) dalam tiap bunganya. Mendel mengamati tujuh sifat kacang kapri (Pisum sativum) tersebut, antara lain: biji lingkaran dibandingkan dengan biji keriput; biji warna kuning dibandingkan dengan biji warna merah; buah warna hijau dibandingkan dengan buah warna kuning; buah mulus dibandingkan dengan buah berlekuk; bunga warna ungu dibandingkan dengan bunga warna putih; dan letak bunga diaksial (ketiak) dibandingkan bunga di terminal ujung; serta batang panjang dibandingkan dengan batang pendek. Mendel memindahkan serbuk sari yang belum cukup umur atau matang, dan menaburkan serbuk sari ke kepala putik pada bunga yang serbuk sarinya sudah dihilangkan. Selanjutnya, ia menyilangkan dua individu galur murni atau true breeding (yaitu tumbuhan yang apabila melaksanakan penyerbukan sendiri, senantiasa menghasilkan tunas yang sifatnya sama persis dengan sifat induknya) yang sama–sama mempunyai pasangan sifat kontras, contohnya : kacang kapri berbunga merah galur murni dengan kacang kapri berbunga putih galur murni atau tumbuhan kacang kapri batang panjang dengan kacang kapri berbatang pendek. Hasil penyilangan mengatakan bahwa sifat dari dua induk tidak muncul sekaligus (hanya satu sifat).

Kacang kapri berbunga merah yang disilangkan dengan kacang kapri berbunga putih menghasilkan kacang kapri berbunga merah. Berarti warna merah mayoritas terhadap warna putih, atau warna putih resesif terhadap warna merah. Alel mayoritas ialah gen penentu sifat yang menutupi sifat pasangannya (alel resesif ), dan ditulis dengan karakter besar (dalam pola di atas, warna merah bersifat mayoritas dan ditulis sebagai M). Alel resesif ialah alel penentu sifat yang ditutupi oleh sifat pasangannya (alel dominan), dan ditulis dengan karakter kecil (dalam pola di atas, warna putih bersifat resesif dan ditulis sebagai m). Selanjutnya, Mendel menyilangkan sesama F1 yang berbunga merah. Keturunan generasi kedua (F2) nya terdiri dari tumbuhan berbunga merah dan tumbuhan berbunga putih dengan rasio (perbandingan) 3 : 1. Berdasarkan penelitiannya, Mendel menyusun beberapa hipotesa sebagai berikut: 

Sepasang gen dari induk jantan dan induk betina berperan dalam mengendalikan setiap sifat pada keturunannya.  Setiap alel (anggota dari sepasang gen) mengatakan bentuk alternatif sesamanya. Misalnya warna merah dengan putih, atau biji lingkaran dengan biji keriput.  Pasangan alel berbeda yang terdapat bersama–sama dalam satu individu tanaman, terdiri dari alel yang merupakan faktor mayoritas dan faktor resesif. Faktor mayoritas akan menutupi faktor resesif. 

Pada dikala pembentukan gamet (meiosis), masing-masing alel memisah secara bebas. Selanjutnya, penggabungan gamet terjadi secara acak.  Individu murni mempunyai pasangan sifat (alel) yang sama ialah mayoritas saja, atau resesif saja. Setelah diuji berkali-kali ternyata hasil penelitian Mendel tetap, sehingga hipotesis Mendel ditetapkan sebagai Hukum Mendel yang pokok, ialah Hukum Mendel I (Hukum Segregasi) dan Hukum Mendel II (Hukum Pengelompokan atau Penggabungan). Oleh alasannya itu, Mendel dikenal sebagai Bapak Genetika.

Gregor Johann Mendel

Gregor Johann Mendel lahir pada 22 Juli 1822 di Heinzendorf (dulu bab dari Austria, kini masuk wilayah Cekoslowakia). Tahun 1840, ia berguru di Sekolah Menengah Troppau lalu di Institut Filsafat Olmutz. Tahun 1843, ia melanjutkan studinya di Biara Augustinia di Altbrun dan menjadi pendeta pada 1847. Tahun 1851-1853, Mendel berguru di Universitas Wina. Selanjutnya, tahun 1857- 1865, ia menyilangkan Pisum sativum (ercis) dan mempublikasikan hasilnya. Tahun 1866, publikasinya hingga ke Eropa dan Amerika, hingga Mendel menerima gelar sebagai Bapak Genetika. (Sumber: Suryo, Genetika Manusia, hlm. 86).

1. Hukum Mendel 1 (Hukum Segregasi)

2. Hukum Mendel 2 (Hukum Asortasi)

3. Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Anda kini sudah mengetahui Hukum Mendel. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Pengertian Aturan Mendel 1 Lengkap

Hukum Mendel 1 - Hukum Mendel 1 disebut juga aturan segregasi yang menyatakan bahwa pada waktu pembentukan gamet, terjadi pemisahan alel secara acak (The Law of Segregation of Allelic Genes). Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, gen merupakan bab dari DNA yang terdapat dalam kromosom. Pasangan kromosom homolog mengandung pasangan gen (terdiri dari 2 alel). Pada pembentukan gamet secara meiosis, pasangan-pasangan gen pada kromosom homolog saling berpisah (tahap Anafase).

Pada tamat meiosis, setiap sel gamet yang dihasilkan hanya mempunyai satu alel dari pasangan gen saja (pelajari kembali wacana gametogenesis).

Proses pemisahan gen inilah yang disebut segregasi gen. Mengenai Hukum Mendel I ini sanggup kalian kaji dari persilangan monohibrida (pembastaran dengan satu sifat beda). Sebagai langkah awal kalian dalam mempelajari persilangan monohibrida, berikut ini akan dijelaskan wacana istilah-istilah yang sering dipakai dalam persilangan.

1. Genotipe dan Fenotipe

2. Persilangan Monohibrida

Anda kini sudah mengetahui Hukum Mendel 1. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Tuesday, February 7, 2017

Apa Yang Dimaksud Dengan Genotipe Dan Fenotipe? Ini Penjelasannya

Genotipe dan Fenotipe - Di dalam suatu individu, terdapat 2 faktor penting yang saling terkait yaitu faktor genotip dan faktor fenotip. Genotipe yakni susunan genetik dari suatu sifat atau karakter individu, biasanya diberi simbol dengan karakter dobel (misalnya TT, Tt dan tt).

Genotip juga dikatakan sebagai faktor pembawaan. Genotipe menawarkan sifat dasar yang tidak tampak dan bersifat menurun atau diwariskan pada keturunannya.

Sementara itu, fenotip yakni hasil verbal atau perpaduan dari genotip dengan lingkungannya, berupa sifat yang tampak dari luar sehingga sanggup diamati. Sebagai pola yakni bentuk (rambut, wajah, mata, tubuh, dan lain-lain) atau warna (pada rambut, kulit, iris atau selaput pelangi).

Genotip yang sama sanggup menghasilkan fenotip yang berbeda jikalau terdapat pada lingkungan berbeda.

Anda kini sudah mengetahui Genotipe dan Fenotipe. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Persilangan Monohibrid

Contoh Persilangan Monohibrid 

Pernahkah kalian mendengar istilah monohibrida? Persilangan monohibrida yakni perkawinan 2 individu dengan satu sifat beda yang menyolok. Persilangan monohibrida sanggup terjadi pada tumbuhan, binatang maupun manusia.

1. Monohibrida pada Tumbuhan

Persilangan monohibrida pada flora sanggup dilakukan misalnya pada buncis berbiji bundar dengan buncis berbiji keriput, buncis dengan biji warna kuning disilangkan dengan biji warna hijau, buncis berbunga merah dengan buncis berbunga putih, dan seterusnya. Agar mudah mempelajarinya, tiap-tiap persilangan diberi simbol (notasi). Pada dikala menyilangkan, tumbuhan induk diberi simbol P (singkatan dari parental). Keturunan I (keturunan pertama) yang dihasilkan disebut fillial (keturunan) yang disingkat F1. Sementara itu, keturunan II sebagai F2. Cobalah kalian perhatikan Tabel 1.

Sifat Beda Induk = Parental (P)

Sifat dan Banyak Individu yang Dihasilkan
Perbandingan Jumlah F2

Keturunan I (F1)

Keturunan II (F2)
Biji bundar X keriput
Semua bundar
5.474 bundar : 1.850 keriput
2,96:1
Biji kuning X hijau
Semua kuning
6.022 kuning : 2.001 hijau
3,01:1
Bunga merah X putih
Semua merah
705 merah : 224 putih
3,15:1
Polong gembung X kurus
Semua gembung
882 gembung : 299 kurus
2,95:1
Polong hijau X kurus
Semua hijau
428 hijau : 152 kuning
1,82:1
Bunga aksial X terminal
Semua aksial
651 aksial : 207 terminal
3,14:1
Batang panjang X pendek
Semua panjang
787 panjang : 177 pendek
2,84:1
Campbell, Reece, & Mitchell, Biologi 1, hlm 260 (dengan pengembangan)

Catatan :
Keturunan I (F1) dihasilkan dari persilangan 2 induk atau parental (P)
Keturunan II (F2) dihasilkan dari persilangan sesama F1 (sifat sama)

Pada persilangan monohibrida yang lain, Mendel melakukan eksperimen (percobaan) dengan menyilangkan tumbuhan kacang kapri berbunga kuning dan tumbuhan kacang kapri berbunga putih. Maka generasi keturunannya (F1) yakni 100% tumbuhan kacang kapri berbunga kuning. Namun, apabila tumbuhan kacang kapri berbunga kuning disilangkan sesamanya (persilangan inbreeding), keturunannya menunjukkan 75% tumbuhan berbunga kuning dan 25% berbunga putih. Untuk lebih jelasnya, sanggup dilihat pada diagram persilangan monohibrida berikut.

Persilangan Monohibrid

Generasi 1
P1 :             
Fenotip :
♀ tumbuhan berbunga kuning X ♂ tumbuhan berbunga putih


Genotip :
KK
kk


Gamet
K
k


F1 :
                100% tumbuhan anakan berbunga kuning (Kk)

Generasi 2
P2 :
Fenotip :
♀ tumbuhan berbunga kuning X ♂ tumbuhan berbunga putih



Kk
Kk



K dan k
K dan k



 Pernahkah kalian mendengar istilah monohibrida Persilangan Monohibrid


F2 :
KK : kuning
75 %


Kk : kuning


Kk : kuning


kk : putih
25 %


Perbandingan (rasio) fenotip :
Kuning : putih




75 % : 25 %

Peristiwa terbentuknya tumbuhan bunga kuning dari hasil persilangan menurut Mendel yakni sebagai berikut: pada waktu pembentukan gamet betina (ovum), alel-alel KK ini memisah menjadi K dan K, sehingga sel gamet pada tumbuhan berbunga kuning hanya mengandung satu macam alel yaitu alel K saja. Sebaliknya, tumbuhan jantan berbunga putih, bersifat homozigot resesif dan genotipnya kk. Alel ini memisah menjadi k dan k pada waktu pembentukan gamet jantan atau serbuk sari, sehingga gamet-gamet jantan tumbuhan putih hanya mempunyai satu macam alel k. Dalam persilangan, terjadilah peleburan gamet jantan (k) dan gamet betina (K), membentuk individu bersifat heterozigot, dengan genotip Kk (fenotip kuning). Pada persilangan ke-2 (P2), yaitu persilangan bebas antara genotip Kk dengan Kk, juga dimulai dengan segregasi alel K dan k, baik pada individu jantan maupun betina. Se gregasi Kk menghasilkan dua macam gamet, yaitu gamet yang mengan dung alel K dan gamet yang mengandung alel k. Karena induk betina mempunyai 2 macam gamet (K dan k), maka terjadilah penyilangan antara keempat macam gamet di atas, yaitu K dengan K membentuk KK (fenotip kuning, homozigot dominan), K dengan k membentuk Kk (fenotip kuning, heterozigot), k dengan K membentuk Kk (fenotip kuning, heterozigot), dan k dengan k membentuk kk (fenotip putih, homozigot resesif).

2. Persilangan Monohibrida pada Hewan

Persilangan monohibrida pada binatang sanggup dipelajari pada persilangan antara marmot dengan rambut normal (hitam) dan marmot dengan rambut albino. Berikut ini yakni persilangan antara kedua marmot tersebut.

P :

♀ AA
X
♂ aa

(hitam)


(albino)

Gamet :

A


a
F1 :

Aa (hitam)


F2 :

Gamet
A
a
A
AA (hitam)
Aa (hitam)
a
Aa (hitam)
aa (albino)

Catatan : 
Alel A = mengakibatkan terbentuknya melanin (pigmen pemberi warna)
Alel a = menghambat terbentuknya melanin

Dari hasil persilangan monohibrida sebelumnya, perbandingan fenotip antara marmot rambut hitam dengan albino yakni (1 AA: 2 Aa: 1 aa) atau 3 hitam : 1 albino.

3. Persilangan Monohibrid pada Manusia

Hasil persilangan pada insan sanggup menghasilkan sifat-sifat berupa jenis kelamin dan adanya kelainan atau cacat menurun (akan kalian pelajari pada sub pecahan berikutnya). Kelainan albino sanggup juga dialami oleh manusia. Seperti halnya pada marmot, persilangan antara manusia berambut hitam dengan insan berambut albino juga menghasilkan perbandingan keturunan 3 (hitam) : 1 (albino).

Anda kini sudah mengetahui Persilangan Monohibrid. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Monday, February 6, 2017

Hukum Mendel 2

Hukum Mendel 2 atau Hukum Asortasi - Selain hanya memiliki satu sifat beda, individu sanggup mempunyai sifat beda lebih dari satu. Persilangan 2 individu yang mempunyai 2 sifat beda (dengan dua alel yang berbeda) disebut dengan persilangan dihibrid. Misalnya: bentuk biji kacang kapri (bulat dan keriput), warna (kuning dan hijau), atau ukuran batang (tinggi dan pendek). Hukum 

Mendel II dikenal sebagai Hukum Asortasi, aturan berpasangan atau penggabungan secara bebas (Th e Law of Independent Assortment of Genes). Hukum ini menyatakan bahwa setiap gen atau sifat berpasangan secara bebas dengan gen atau sifat lain. Pada persilangan antara tumbuhan kapri berbiji lingkaran warna kuning homozigot (BBKK) dengan kapri berbiji keriput warna hijau (bbkk), akan menghasilkan 16 kombinasi genotip keturunan sebanyak 100% tanaman berbiji lingkaran dan berwarna kuning. Selanjutnya, apabila tanam an F1 tersebut disilangkan sesamanya (sama-sama F1), ternyata pada keturunan kedua (F2), kesannya : 9/16 lingkaran kuning, 3/16 bulat keriput, 3/16 keriput kunig, dan 1/16 keriput hijau atau rasio F2 = 9 : 3 : 3 : 1.

Agar lebih mengerti, cermatilah pola persilangan dihibrida berikut.

1. Persilangan Dihibrida

Generasi 1
P1
Fenotipe
:
Betina ♀

Jantan ♂



tanaman berbiji bulat, berwarna kuning
X
tanaman berbiji keriput, berwarna kuning

Genotipe
:
BBKK

bbkk

Gamet
:
BK

bk
F1

:
Tanaman berbiji bulat, berwarna kuning
Generasi 2
P2
Fenotip
:
tanaman berbiji bulat, berwarna kuning
X
tanaman berbiji bulat, berwarna kuning

Genotip
:
BbKk

BbKk         

Gamet
:
¼ BK (bulat, kuning) ¼ BK



¼ Bk (bulat, hijau) ¼ Bk



¼ bK (keriput, kuning) ¼ bK



¼ bk (keriput, hijau) ¼ bk

Catatan :
Pada pembentukan gamet tersebut, terjadi 4 macam pengelompokan gen. Gen B mengelompok dengan gen K membentuk gamet BK; gen B mengelompok dengan gen k membentuk gamet Bk; gen b mengelompok dengan gen K membentuk gamet bK; dan gen b mengelompok dengan gen k membentuk gamet bk.

F2
Gamet
¼ BK
¼ Bk
¼ bK
¼ bk
¼ BK
1/16 BBKK
1/16 BBKk
1/16 BbKK
1/16 BbKk

bulat kuning
bulat kuning
bulat kuning
bulat kuning
¼ Bk
1/16 BBKk
1/16 BBkk
1/16 BbKk
1/16 Bbkk

bulat kuning
bulat hijau
bulat kuning
bulat hijau
¼ bK
1/16 BbKK
1/16 BbKk
1/16 bbKK
1/16 bbKk

bulat kuning
bulat kuning
keriput kuning
keriput kuning
¼ bk
1/16 BbKk
1/16 Bbkk
1/16 bbKk
1/16 bbkk

bulat kuning
bulat hijau
keriput kuning
keriput hijau
Suryo, Genetika Manusia, hlm. 29 (dengan pengembangan)


Rasio fenotip (F2)



bulat kuning : lingkaran hijau
:
keriput kuning : keriput hijau

9/16 : 3/16
:
3/16 : 1/16
Atau
9 : 3
:
3 : 1

a. Macam Gamet dan Macam Fenotip dari Persilangan

Di dalam pola persilangan monohibrida, sanggup diketahui bahwa gamet yang terbentuk pada F1 ada dua macam dan fenotip yang terbentuk pada F2 ada dua macam. Sementara pada perbandingan dihibrida, sanggup diketahui bahwa gamet yang terbentuk pada F1 ada empat macam dan fenotip yang terbentuk juga empat macam, dengan perbandingan 9 : 3 : 3 : 1. Untuk persilangan trihibrida, tetrahibrida dan seterusnya, sanggup ditentukan dengan metode segitiga pascal, seperti pada tabel berikut.

Tabel 1. Hubungan Jumlah Sifat Beda dengan Banyaknya Macam Gamet pada F1 dan Perbandingan Fenotip pada F2

Jumlah sifat beda

Kemungkinan macam Fenotip

Macam
gamet

Perbandingan Fenotip pada F2

1
1 1
2
3 : 1
2
1 2 1
4
9 : 3 : 3: 1
3
1 3 3 1
8
27 : 9 : 9 : 9 : 3 : 3 :3 : 1
4
1 4 6 4 1
16
81 : 27 : 27 : 27 : 27 : 9 : 9 : 9
: 9 : 9 : 9 : 3 : 3 : 3 : 3 : 1
5
1 5 10 10 5 1
32
243, dan seterusnya
n
dan seterusnya
2n
3n dan seterusnya
Suryo, Genetika Manusia, hlm. 31 (dengan pengembangan)

2. Persilangan Resiprok

Sebagaimana telah kalian ketahui, dalam persilangan tumbuhan diharapkan gamet jantan (serbuk sari) dan gamet betina (putik). Dalam persilangan antara ercis berbuah hijau dengan ercis berbuah kuning misalnya, serbuk sari diambil dari ercis berbuah hijau lalu diserbukkan pada putik tumbuhan ercis berbuah kuning. Semua keturunan F1nya berbuah hijau. Keturunan F2nya menghasilkan ercis berbuah hijau dan kuning dengan perbandingan 3:1. Demikian halnya jikalau serbuk sari diambil dari tanaman ercis berbuah kuning dan diserbukkan pada putik ercis berbuah hijau, hasil yang diperoleh baik pada F1 maupun F2nya tetap sama. Persilangan yang merupakan kebalikan dari persilangan sebelumnya inilah yang disebut persilangan resiprok. Oleh karena itu, baik tumbuhan yang berfungsi sebagai gamet jantan maupun sebagai gamet betina, memiliki kesempatan yang sama di dalam pewarisan sifat. Berarti, Hukum Mendel I dan II tidak dipengaruhi oleh asal dari gamet jantan maupun betinanya.

Untuk lebih terperinci dalam memahami persilangan resiprok, dapat dilihat pada pola persilangan berikut.

P
♀HH (buah hijau)
X
♂hh (buah kuning)
p
♀HH (buah hijau)
X
hh (buah kuning)
Gamet
H

h
Gamet
H

h
F1
Hh (buah hijau)


F1
♀Hh (buah hijau)


Gamet F1
♀H

♂H
Gamet F1 H
♂H



h

h

h

h
F2
HH (buah hijau)


F2
HH (buah hijau)



Hh (buah hijau)



Hh (buah hijau)



Hh (buah hijau)



Hh (buah hijau)



hh (buah kunng)



hh (buah kuning)



Dari hasil tersebut, jelaslah bahwa persilangan resiprok menghasilkan keturunan yang sama.

3. Back Cross (Persilangan Balik) dan Test Cross (Uji Silang)

Berikutnya akan kalian pelajari perbedaan antara back cross dan test cross. Nah, sebelumnya kalian cermati dulu pola berikut.

Persilangan Back Cross
P1
Fenotipe
:
♂bunga di ketiak batang
X
♀bunga di ujung batang

Genotipe
:
KK

kk              

Gamet
:
K

k
F1

:
Kk (100% bunga di ketiak batang)
Back cross
P2              
Fenotipe
:
♂bunga di ketiak batang
X
♀bunga di ketiak batang

Genotipe
:
Kk

KK

Gamet
:
K, k

K
F2
KK (bunga letak di ketiak batang)
hasil back cross 100% bunga di ketiak batang

Kk (bunga letak di ketiak batang)

Dengan demikian, sanggup kita ketahui bahwa back cross merupakan persilangan antara keturunan F1 yang heterozigot dengan induknya (baik jantan atau betina) yang homozigot dominan. Pada pola di atas, diketahui bahwa dua individu yang memiliki genotip yang berbeda sanggup memiliki fenotip yang sama.

Kemudian, bagaimana dengan test cross, simaklah uraian berikut. Test cross yaitu persilangan antara hibrid (individu F1) dengan salah satu induk homozigot resesif. Individu F1 tidak atau belum diketahui genotipnya. Oleh lantaran itu, uji silang ini bertujuan untuk menguji ketidakmurnian individu dengan mengetahui perbandingan fenotip keturunannya. Dengan demikian, sanggup diketahui individu yang diuji yaitu heterozigot atau homozigot (galur murni).

Nah, selanjutnya perhatikanlah pola test cross pada monohibrida di bawah ini.

1) : Marmot hitam disilangkan dengan induknya yang homozigot resesif (bb), menghasilkan keturunan 50% marmot hitam dan 50% albino.

P1
:
jantan (___)
>< 
betina bb
Fenotipe
:
Bulat

keriput
Gamet
:
…………..

b, b
F1        
:
Bb : 50% biji bulat


bb : 50% biji keriput

Berarti individu tersebut bersifat heterozigot (Bb).

2) : Marmot hitam disilangkan dengan induk resesif albino. Keturunannya ternyata 100% bulat.

P1
:
jantan (___)
>< 
betina bb
Fenotipe
:
Bulat

keriput
Gamet
:
B

b, b
F1        
:
Bb : 100% biji bulat

Berarti, individu tersebut bersifat homozigot lebih banyak didominasi (BB)

4. Sifat Intermedier

Seperti yang telah kalian ketahui sebelumnya bahwa persilangan satu sifat beda (misalnya, buah lingkaran dengan buah keriput) menghasilkan fenotip individu anakannya menyerupai sifat induknya (bulat atau keriput saja). Dengan kata lain, tidak dihasilkan individu dengan fenotip di luar fenotip induknya (tidak dihasilkan fenotip buah kotak ataupun lonjong). Lain halnya pada tumbuhan bunga pukul empat (lihat Gambar 1), pada persilangan antara tumbuhan bunga pukul empat (Mirabilis jalapa) berwarna merah dengan bunga berwarna putih, dihasilkan individu keturunan dengan bunga berwarna merah jambu.

 Mendel II dikenal sebagai Hukum Asortasi Hukum Mendel 2
Gambar 1. Mirabilis jalapa (Bunga pukul empat)
Warna merah jambu merupakan warna antara merah dan putih yang disebabkan oleh mulut dari alel penentu warna merah dengan ekspresi dari alel warna putih. Oleh lantaran itu, kedua alel penentu sifat beda tersebut dikatakan memiliki kekuatan yang sama dalam mempengaruhi munculnya sifat. Sifat antara yang diturunkan dari sifat induk pertama dengan sifat induk ke-2 inilah yang disebut sebagai sifat intermedier.

Anda kini sudah mengetahui Hukum Mendel 2. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com