Showing posts with label Enzim. Show all posts
Showing posts with label Enzim. Show all posts

Saturday, March 4, 2017

Inilah Faktor Yang Mensugesti Kerja Enzim

Grafik kerja enzim dan penjelasannya

Grafik faktor yang mempengaruhi kerja enzim - Selain adanya zat penghambat (inhibitor), kerja enzim sanggup dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: adanya zat pengaktif (aktivator), suhu, hasil akhir, pH, konsentrasi enzim atau substrat, dan air. Secara rinci sanggup dijelaskan sebagai berikut :

a. Zat-zat pengaktif (aktivator)

Zat-zat kimia tertentu sanggup memacu atau mengaktifkan kegiatan enzim. Contoh: garam-garam dari logam alkali dan logam alkali tanah dengan konsentrasi encer, ion kobalt (Co), mangan (Mn), nikel (Ni), magnesium (Mg), dan klor (Cl).

b. Suhu

Setiap enzim sanggup bekerja dengan efektif pada suhu tertentu dan aktivitasnya akan berkurang jikalau berada pada kondisi di bawah atau di atas titik tersebut. Kondisi yang mengakibatkan kerja enzim menjadi efektif ini disebut kondisi optimal. Sebagian besar enzim pada insan memiliki suhu optimal yang mendekati suhu badan (35 oC - 40 oC). Pada suhu tinggi (>50 oC), enzim sanggup rusak dan pada suhu rendah (0 oC), enzim menjadi tidak aktif. Perhatikan Gambar 2.7. Suhu yang tidak sesuai tersebut akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk sisi aktif enzim. Sifat en zim yang tidak tahan panas atau sanggup berubah alasannya imbas suhu ini disebut termolabil. 

Grafik faktor yang mempengaruhi kerja enzim Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.1. Grafik pengaruh suhu terhadap kegiatan enzim.
c. pH 

Selain suhu, faktor lingkungan yang mempengaruhi kerja enzim yaitu derajat keasaman (pH). Sebagaimana faktor suhu, enzim juga memiliki pH tertentu biar sanggup bekerja secara efektif. Enzim sanggup bekerja optimal pada pH netral (pH = 7), pH basa (>7) atau pH asam (<7) tergantung pada jenis enzim masing-masing. Perhatikan Gambar 2.8. Enzim pencerna protein misalnya, memiliki pH paling optimal 1-2, sedangkan enzim pencernaan yang lain memiliki pH optimal 8. Pada pH tertentu, enzim sanggup mengubah substrat menjadi hasil akhir. Kemudian, apabila pH tersebut diubah, enzim sanggup mengubah kembali hasil selesai menjadi substrat.

Grafik faktor yang mempengaruhi kerja enzim Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.2. Grafik pengaruh pH terhadap kegiatan satu jenis enzim
d. Hasil akhir

Kalian telah mengetahui bahwa dalam suatu reaksi kimia dibutuhkan adanya reaktan yang akan diubah menjadi produk atau hasil akhir. Hasil selesai merupakan senyawa gres sebagai hasil pembentukan maupun penguraian reaktan. Apabila hasil selesai ini banyak, enzim akan sulit bergabung dengan substrat sehingga reaksi kimianya berlangsung lambat.

e. Konsentrasi enzim

Konsentrasi enzim yang tinggi akan mempengaruhi kecepatan reaksi secara linear (kecepatan bertambah secara konstan). Dapat dikatakan bahwa kekerabatan antara konsentrasi enzim dengan kecepatan reaksi enzimatis berbanding lurus. Kecepatan reaksi suatu enzim satu dengan yang lain berbeda-beda meskipun memiliki konsentrasi enzim yang sama. Konsentrasi enzim yang sangat tinggi dalam suatu sistem yang kompleks akan besar lengan berkuasa terhadap kecepatan reaksi.

Grafik faktor yang mempengaruhi kerja enzim Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.3. Hubungan laju reaksi dengan konsentrasi beberapa enzim.
Grafik faktor yang mempengaruhi kerja enzim Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.4. Hubungan V dengan [E] sangat tinggi pada  sistem yang kompleks.
f. Konsentrasi substrat

Pada konsentrasi substrat yang rendah, kenaikan substrat akan meningkatkan kecepatan reaksi enzimatis hampir secara linear. Jika konsentrasi substrat tinggi, maka peningkatan kecepatan reaksi enzimatis akan semakin menurun sejalan dengan peningkatan jumlah substratnya. Kecepatan maksimum (Vmax) reaksi enzimatis ditunjukkan dengan garis mendatar yang menggambarkan peningkatan kecepatan reaksi yang rendah seiring penambahan konsentrasi substrat.

Grafik faktor yang mempengaruhi kerja enzim Inilah Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim
Gambar 1.5. Hubungan konsentrasi substrat kecepatan reaksi enzimatik
g. Air

Menurut penelitian, di dalam biji terdapat majemuk enzim. Masih ingatkah kalian dengan perkecambahan biji? Ya, pada proses perkecambahan, imbibisi air pada biji yang sehat dan telah bau tanah akan mengaktifkan enzim- enzim dalam biji sehingga biji berkecambah.

Anda kini sudah mengetahui Faktor yang Mempengaruhi Kerja Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Friday, March 3, 2017

Penghambat Kerja Inhibitor Enzim

Penghambat Kerja Inhibitor Enzim Kerja suatu enzim selama metabolisme tidak selalu berjalan lancar tanpa ada yang menghalanginya. Suatu zat tertentu yang sanggup menghalangi kerja enzim ini disebut inhibitor. Zat-zat penghambat (inhibitor) berupa zat-zat kimia yang sanggup menghambat kerja enzim. Contoh: garam-garam logam berat ibarat air raksa, iodium-asetat, fluorida, sianida, azida, dan karbon monoksida.

a. Inhibitor kompetitif

Zat penghambat ini mempunyai struktur yang ibarat dengan substrat. Oleh alasannya ialah itu, zat penghambat dan substrat bersaing untuk sanggup bergabung dengan enzim membentuk kompleks enzim- substrat. Selain menghambat ikatan antara enzim dengan substrat, inhibitor sanggup menghambat penguraian dan pembentukan senyawa baru. Inhibitor berikatan lemah (ikatan ion) dengan enzim pada sisi aktifnya sehingga inhibitor ini bersifat reversibel. Dengan menambah kepekatan substrat, inhibitor tidak bisa lagi bergabung dengan enzim. Contoh inhibitor kompetitif yaitu asam malonat, yang menghambat ikatan antara enzim dengan asam suksinat. Perhatikan Gambar 1.1 (c).

 Kerja suatu enzim selama metabolisme tidak selalu berjalan lancar tanpa ada yang menghala Penghambat Kerja Inhibitor Enzim
Gambar 1.1. (a) Bentuk substrat dan enzim normal, (b) Inhibitor non-kompetitif, dan (c) Inhibitor kompetitif.
b. Inhibitor non-kompetitif 

Pada umumnya, inhibitor ini tidak mempunyai struktur yang ibarat dengan substrat dan bergabung dengan enzim pada bab selain sisi aktif enzim. Jika inhibitor ini bergabung dengan enzim maka akan mengubah bentuk sisi aktif enzim. Dengan demikian, bentuk sisi aktif tidak sesuai lagi dengan bentuk substrat (ingat model kerja enzim teori gembok– kunci). Contoh inhibitor non-kompetitif, antara lain: pestisida (DDT) dan paration yang menghambat kerja enzim dalam sistem syaraf, serta antibiotik dan p3enisilin pada sel bakteri. Perhatikan Gambar 1.1 (b). Berbeda dengan dua macam inhibitor yang lain, inhibitor irreversibel menempel pada sisi aktif enzim dengan sangat berpengaruh (ikatan kovalen) sehingga tidak sanggup lepas dari enzim (irreversibel). Akibatnya, enzim menjadi tidak aktif.

Anda kini sudah mengetahui Penghambat Enzim atau Inhibitor Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Thursday, March 2, 2017

Inilah Sifat-Sifat Enzim

Sifat-sifat Enzim - Setiap struktur (senyawa maupun molekul tertentu) yang berbeda, selalu mempunyai sifat-sifat khas masing-masing. Sebelumnya, kalian telah mengetahui bahwa enzim sebagai biokatalisator. Selama menjalankan fungsinya tersebut, enzim mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: 

a. Enzim sebagai biokatalisator suatu reaksi 

Biokatalisator merupakan salah satu sifat spesifik dari enzim. Artinya, enzim sanggup mempercepat suatu reaksi namun tidak ikut bereaksi. Contoh: dikala amilase mempercepat reaksi perombakan amilum, amilase tidak bereaksi dengan substrat menjadi bentuk lain (bentuknya tetap), sehingga amilase sanggup berfungsi kembali.

b. Enzim bekerja secara khusus 

Reaksi kimia yang ada di dalam sel banyak sekali, bukan? Kemudian, bagaimana dengan enzim? Enzim bersifat sangat spesifik, artinya enzim hanya bekerja pada substrat tertentu saja, tidak sanggup untuk sembarang substrat. Enzim tertentu hanya mengkatalis reaksi kimia tertentu pula. Contoh: enzim ptialin mengkatalis reaksi pengubahan zat tepung menjadi maltosa. Dengan demikian, enzim ptialin hanya bekerja pada substrat zat tepung (amilum). Enzim katalase bekerja pada substrat H2O2 (hidrogen peroksida). H2O2 diuraikan oleh katalase menjadi H2 dan O2 (produk). 

c. Enzim sanggup bekerja secara bolak balik (reversibel) 

Sebagian besar reaksi kimia dalam badan organisme (biokimiawi) bersifat reversibel. Demikian juga kerja enzim sebagai biokatalisator. Artinya, enzim sanggup mengkatalisis reaksi maju maupun reaksi kebalikannya. Dengan demikian, enzim tidak mempengaruhi arah suatu reaksi. Enzim sanggup membentuk senyawa gres maupun menguraikan suatu senyawa gres tersebut menjadi senyawa lain. Contoh: enzim lipase mengubah gliserol dan asam lemak menjadi lemak. Enzim lipase juga sanggup mengubah lemak menjadi gliserol dan asam lemak. 

d. Wujud enzim ialah koloid 

Secara keseluruhan, enzim merupakan protein. Oleh alasannya ialah itu, enzim sanggup membentuk koloid. 

e. Enzim rusak kalau kena panas 

Komponen protein penyusun enzim akan sangat memilih sifat enzim. Salah satu sifat dari protein ialah tidak tahan terhadap panas (termolabil). Apoenzim bersifat termolabil. Oleh alasannya ialah itu, enzim akan rusak kalau terkena panas atau suhu yang tinggi. Kerusakan enzim akhir suhu tersebut dinamakan denaturasi. Pada suhu di atas 50 oC, enzim akan mengalami denaturasi. Enzim yang telah rusak menimbulkan acara atau fungsi enzim hilang. Denaturasi bersifat irreversibel. Walaupun suhunya diturunkan atau dinormalkan, enzim yang rusak tidak akan sanggup berfungsi kembali. 

f. Enzim sanggup diekstraksi dari sel tanpa kehilangan acara katalitiknya 

Struktur dan prosedur kerja enzim yang terdapat di dalam sel sanggup dipelajari secara mendalam melalui suatu teknik khusus. Enzim yang akan dipelajari tersebut sanggup diekstraksi dari sel yang memproduksinya tanpa kehilangan acara katalitiknya.

Anda kini sudah mengetahui Sifat Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Inilah Fungsi Dan Cara Kerja Enzim (Lengkap)

Fungsi dan Cara Kerja Enzim - Di dalam reaksi kimia, antara suatu materi (zat, unsur, molekul atau senyawa) yang satu sanggup mengadakan reaksi dengan materi (zat, unsur, molekul atau senyawa) yang lain sehingga dihasilkan suatu senyawa yang baru. Hal tersebut terjadi di dalam proses metabolisme, sehingga dihasilkan materi yang diharapkan untuk tubuh. Nah, dalam proses metabolisme tersebut, tentunya diharapkan waktu tertentu untuk sanggup mengubah materi baku menjadi materi yang gres (produk). 

Selama terjadi reaksi kimia tersebut, diharapkan adanya suatu materi yang berperan dalam mengatur waktu untuk terjadinya reaksi ialah enzim. Enzim tersebut diharapkan untuk mempercepat terjadinya reaksi kimia (katalis), sehingga enzim disebut sebagai katalisator. Enzim yang berperan untuk mempercepat reaksi kimia dalam metabolisme suatu sistem hayati atau organisme disebut sebagai biokatalisator. Molekulmolekul yang dikatalis oleh enzim dinamakan substrat. 

Reaktan memerlukan energi (panas) untuk tetapkan ikatanikatan antar atomnya, sehingga atom-atom tersebut sanggup membentuk ikatan gres (produk). Energi bebas yang diharapkan untuk tetapkan ikatan ini disebut energi aktivasi (EA), sedangkan perbedaan antara energi bebas produk dengan energi bebas reaktan disimbolkan dengan ΔG. 

Reaksi kimia yang dikatalis oleh enzim, memperlihatkan bahwa reaksi tersebut membutuhkan energi untuk reaksi lebih sedikit dibanding reaksi yang tidak dikatalis oleh enzim. Oleh sebab itu, enzim berperan penting dalam menurunkan energi aktivasi untuk memulai suatu reaksi, sehingga reaksi sanggup berjalan sangat cepat, efisien, dan tidak menjadikan suhu yang tinggi. Perhatikan Gambar 1.1. 

 yang satu sanggup mengadakan reaksi dengan materi  Inilah Fungsi dan Cara Kerja Enzim (Lengkap)
Gambar 1.1. Penurunan energi aktivasi oleh enzim.
Setelah mengetahui fungsi enzim dalam metabolisme, tahukah kalian di mana enzim dihasilkan atau ditemukan? 

Enzim dihasilkan di dalam sel dan sanggup bekerja di dalam sel maupun di luar sel. Enzim yang bekerja di dalam sel disebut enzim intraseluler. Misalnya, enzim yang berfungsi memperlihatkan racun sel H2O2 (hidrogen peroksida) menjadi H2 dan O2 yang bersifat netral. Enzim pernafasan selalu terdapat dalam sel. Sementara itu, enzim yang bekerja di luar sel disebut enzim ekstraseluler, ialah enzim- enzim pencernaan. Sebagian besar enzim terdapat pada protoplasma sel. Namun, pada sel tertentu enzim ditemukan di dalam vakuola dan dinding sel. Selanjutnya, bagaimanakah enzim bekerja? Ada dua teori yang menjelaskan kerja enzim tersebut, yaitu:


2. Teori Ketepatan Induksi (Induced Fit Theory)

Anda kini sudah mengetahui Fungsi Enzim dan Cara Kerja Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Sunday, February 26, 2017

Pembentukan Enzim

Proses Pembentukan Enzim - Menurut hasil penelitian Beadle dan Tatum, pembentukan enzim menurut pada teori “one gene one enzyme”. Artinya, pembentukan satu enzim dikendalikan oleh satu gen. Namun, keyakinan ini tidak bertahan lama. Pada awal tahun 1950-an, telah banyak kemajuan di bidang genetika biokimia sehingga teori tersebut dianggap sangat mustahil.

Dimulai pada tahun 1957, ketika Vernom Ingram dan rekan penelitinya menawarkan adanya variasi genetik pada protein (seperti pada kasus hemoglogin berbentuk bulan sabit/sickle cell hemoglobin). Perubahan hemoglobin normal ke bentuk bulan sabit ini hanya terjadi akhir adanya perubahan pada salah satu rantai polipeptida pada protein kompleks. Hal ini memunculkan teori gres yaitu" gen one polypeptide".

Namun, pada perkembangan selanjutnya, teori ini juga mendapat tantangan, dimana ternyata tidak semua gen selalu mentranskripsi mRNA untuk membentuk polipeptida. Kita telah mengetahui bahwa beberapa gen juga mentranskripsi tRNA dan rRNA, dimana keduanya tidak ditranslasikan untuk memproduksi polipeptida.

Berdasarkan hal tersebut maka teori "one gene one polipeptide" juga tidak tepat.

Perkembangan selanjutnya dari teori ini ialah munculnya pandangan gres dari Benjamin Lewin pada bukunya yang berjudul Gene VII yang diterbitkan pada tahun 2000. Ia membuatkan hipotesis gres yaitu "one polypeptide one gene". Sampai ketika teori ini belum bertentangan dengan kenyataan yang ada. Satu polipetida dihasilkan dari satu gen sepertinya lebih masuk logika untuk diterima dibandingkan 2 teori sebelumnya. Penjelasan dari teori "one polypeptide one gene" ialah bawa satu polipeptida selalu dihasilkan oleh satu gen sedangkan satu gen tidak selalu menghasilkan polipeptida.

Lalu bagaimanakah pembentukan enzim ?

Tahapan pembentukan enzim hampir sama dengan sintesis protein, dimana dimulai dengan transkripsi kemudian translasi. Lalu apa bedanya antara protein dan enzim? Enzim juga termasuk protein, lebih tepatnya ialah protein fungsional. Enzim mempunyai sisi aktif, yang berfungsi untuk bereaksi dengan substrat. Makara sisi aktif inilah yang membedakan enzim dengan protein biasa. Intinya : Enzim termasuk protein sedangkan protein belum tentu enzim.

Berikut ini ialah salah satu pola prosedur regulasi gen pada pembentukan enzim selulase.
 Menurut hasil penelitian Beadle dan Tatum Pembentukan Enzim
Model induksi terhadap enzim selulase. [1]

Pada gambar di atas sanggup kita lihat bahwa CLR-1 (faktor transkripsi-1) merupakan elemen penting untuk Neurospora crassa cellobiose sensing mechanism atau prosedur deteksi adanya selubiosa pada fungi N. crassa. Jika gen clr-1 ini direpresi memakai carbon catabolite atau dilemahkan ekspresinya, maka lisan gen yang mengkode selulase,  β-glucosidases, cellobiose transporters, akan CLR-1 akan berkurang atau lemah. Namun, pada kondisi normal, kalau ada selubiosa atau produk transglikosilasinya yang masuk ke dalam sel fungi, CLR-1 akan aktif. Aktifnya CLR-1 memicu lisan beberapa gen yang diharapkan untuk pemasukan selubiosa secara efisien ke dalam sel untuk dimetabolisme. CLR-1 akan menginduksi gen clr-2 untuk memproduksi CLR-2. Selanjutnya CLR-2 (faktor transkripsi-2) secara eksklusif menginduksi lisan gen hemiselulase (hemiselulase merupakan salah satu enzim yang termasuk kelompok selulase). Induksi secara eksklusif ini kemungkinan disebabkan oleh aktifnya gen CLR-1. Aktifnya CLR-1 sangat penting untuk  meningkatkan level lisan gen clr-2. CLR-1 ini menyerupai ditunjukkan oleh gambar di atas memicu lisan regulon avicel sehingga terjadi produksi selubiosa (selain glukosa yang dimetabolisme secara langsung) dalam jumlah lebih besar untuk membuat umpan balik yang positif bagi gen yang terkait dengan produksi selulase.

Anda kini sudah mengetahui Pembentukan Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun ya.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Referensi Lainnya :

[1] Samuel T. Coradetti, James P. Craig, Yi Xiong, Teresa Shock1, Chaoguang Tian2, and N. Louise Glass. 2012. Conserved and essential transcription factors for cellulase gene expression in ascomycete fungi. PNAS. pp. 6. DOI : 10.1073/pnas.1200785109

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Thursday, February 23, 2017

Fungsi Enzim Pada Proses Metabolisme

Peranan enzim dalam proses metabolisme

Metabolisme (dari bahasa Yunani, metabole = ‘berubah’), merupakan suatu rangkaian atau proses yang terarah dan teratur di dalam sel badan melalui reaksi-reaksi kimiawi, sehingga diharapkan atau dihasilkan bahan-bahan tertentu menyerupai unsur, molekul, senyawa, atau energi.

Berdasarkan proses dan hasilnya, metabolisme dibedakan menjadi dua yaitu katabolisme dan anabolisme. Sebagaimana telah kalian ketahui bahwa katabolisme ialah proses perombakan senyawa-senyawa yang kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui reaksireaksi kimiawi, sehingga dihasilkan energi.

Sementara itu, anabolisme ialah proses pembentukan senyawa-senyawa kompleks dari senyawasenyawa yang lebih sederhana melalui reaksi-reaksi kimiawi sehingga diharapkan adanya energi.

Selanjutnya, tahukah kalian apakah enzim itu? Enzim merupakan senyawa organik yang tersusun oleh protein (spesialisasi protein) untuk menjalankan proses-proses biokimiawi dalam sisitem hayati.

Dengan demikian, reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh, baik anabolisme maupun katabolisme selalu melibatkan enzim. Komponen- komponen, fungsi, cara kerja, sifat-sifat, faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim, penamaan dan pengelompokkan enzim, serta bagaimana pembentukan enzim akan kalian pelajari pada materi berikut.

1. Sejarah Enzim

2. Komponen-komponen Enzim

3. Fungsi dan Cara Kerja Enzim

4. Sifat-sifat Enzim

5. Penghambat Kerja Enzim

6. Faktor yang Memengaruhi Kerja Enzim

7. Penamaan dan Pengelompokan Enzim

8. Pembentukan Enzim

Anda kini sudah mengetahui Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com

Sejarah Enzim

Penemuan / Sejarah Enzim

Tahukah kalian, kapan istilah enzim digunakan oleh orang? Pada awalnya, Kuhne (1878) memberi nama zat yang berperan dalam proses pengubahan atau pembongkaran dan penyusunan yaitu ferment atau enzim.

Enzim dari kata “in” dan “zyme” yang artinya sesuai yang ada di dalam ragi. Buchner (1896), memberi nama zat yang diperoleh dari sel-sel ragi yang telah dihancurkan yaitu zimase alasannya yakni zat itu berasal dari ragi (zyme).

Pada tahun 1926, Sumner berhasil memisahkan enzim dari biji polong-polongan tumbuhan Canavalia ensiformis dalam bentuk kristal.

Setelah itu, berhasil dipisahkan beberapa enzim menyerupai katalase, papain, tripsin, dan pepsin. Semuanya dalam bentuk kristal. (sumber: suharjawanasuria.tripod.com)

Anda kini sudah mengetahui Sejarah Penemuan Enzim. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Blog Nafiun.

Referensi :

Rochmah, S. N., Sri Widayati, Mazrikhatul Miah. 2009. Biologi : Sekolah Menengan Atas dan MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.

Sumber http://perpustakaancyber.blogspot.com